Teknik Menulis adalah cara atau metode yang di gunakan untuk menuangkan pikiran kita dalam bentuk tulisan.![]()
![]()
"sudah lah tulis ajah, apa yang ada dalam pikiran mu, jangan terlalu banyak berpikir. go ahead ja" itulah kata - kata yang aku terima ketika akan menulis kan entri ini, jujur aku sangat bingung ketika harus menulis.
mungkin karena dari kecil di cetak untuk selalu mencotek
, maksudnya gak pernah di biasain untuk menuangkan tulisan sendiri, disekolah pun setiap mata pelajaran selalu mencontek, tulisan di papan tulis, di buku. So, ketika harus berpikir sendiri untuk menulis ,maka yang terjadi adalah
,
.
ok kita mulai... ![]()
ternyata Menulis, merupakan pekerjaan yang sepertinya mudah, tapi susah.benar gak sich ??![]()
ok. sekarang qt coba bahas bagaimana menulis cerpen, contoh yang sederhana aja dulu ok.![]()
Dalam menulis sebuah cerpen kita tentu harus dapat memperhatikan berbagai hal mulai dari yang kecil hingga yang besar karna di dalam penulisan cerpen memperhatikan cara penyajian dan segi kebahasaan oleh karna itu bagi seorang pemula menulis cerpen merupakan sebuah hal yang amat sulit pada awalnya jadi perlu sedikit semangat dan stamina yang lebih untuk bias menulis cerpen yang bagus Apalgi di dalam menulis sebuah novel yang lebih harus di perhatikan yakni dari semua paktor kebahasan karna paktor kebahasaan lebih menunjang jadi kita sebagai pemula harus lebih banyak belajar agar penyajian cerpen menjadi lebih menarik di sini penulis menyajikan sedikit materi tentang caa penyajian sebuah cerpen dari segi kebahasaan Di antaranya :![]()
Tema
Sebaiknya Anda memiliki tema yang jelas saat menulis cerpen, tentang cerita seperti apa yang ingin Anda tulis. Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca. Dengan adanya tema, yang menjadi tulang punggung cerita, maka cerpen Anda akan meninggalkan kesan tersendiri pada pembaca. Penetapan tema dari awal juga berguna agar saat menulis, Anda tidak terlalu jauh melenceng dari cerita sudah ditetapkan.
Alur cerita
Fokuslah pada satu alur cerita sesuai dengan tema yang sudah ditetapkan sebelumnya. Karakter tambahan, sejarah, latar belakang, dan detail lainnya sebaiknya memperkuat alur cerita ini. Percabangan alur cerita mutlak harus dihindari.
Karakter
Jangan menggunakan jumlah karakter yang terlalu banyak. Semakin banyak karakter bisa membuat cerita Anda menjadi terlalu panjang dan tidak fokus pada tema. Gunakan karakter secukupnya yang sesuai dengan alur cerita.
Sepenggal kisah hidup
Namanya saja cerita pendek, sehingga cerpen hanya menceritakan tentang sekelumit kisah dalam hidup karakter yang Anda buat. Jika karakter Anda memiliki kisah hidup yang sangat panjang, tulis hanya sebagai background yang menjadi penguat tema cerita tersebut. Tekankan hanya pada satu bagian dari hidupnya untuk ditulis.
Penggunaan kata
Bagaimanapun cerpen memiliki keterbatasan dalam jumlah kata yang bisa dipakai, apalagi cerita super pendek seperti flash fiction. Seringkali majalah atau koran tertentu benar-benar membatasi jumlah kata yang bisa dipakai. Jadi, Anda sebaiknya menggunakan pilihan kata yang efisien dan menghindari menggunakan kalimat deskriptif yang berpanjang-panjang.
Impresi
Secara tradisional, cerpen dimulai dengan pengenalan karakter, konflik, dan resolusi. Alternatif lain, adalah Anda dapat membuat impresi pada pembaca justru pada awal cerita, dengan langsung menghadirkan konflik. Karakter Anda sudah berada di dalam kekacauan besar. Hal ini
akan membuat pembaca semakin penasaran, ada apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana karakter tersebut akan mengatasi persoalannya. Pengenalan karakter, setting, dll dapat dilakukan secara perlahan-lahan di bagian cerita berikutnya.
Kejutan
Beri kejutan pada pembaca di akhir cerita. Hindari membuat akhir cerita yang mudah ditebak.
Konklusi
Jangan biarkan pembaca meraba-raba dalam gelap pada akhir cerita Anda. Pastikan konklusi di akhir cerita Anda memuaskan, tetapi juga tidak mudah ditebak. Pembaca perlu dibuat berkesan pada akhir cerita, tentang apa yang terjadi pada karakter tersebut. Akhir cerita yang mengesankan akan selalu diingat oleh pembaca, bahkan setelah lama mereka selesai membaca cerita tersebut.
nah itu sekelumit teori tentang penulisan cerpen
,
.
ok sekarang kita coba aplikasikan.
Sebuah cerita dapat didapat dari mana saja mau ditulis macam apa saja untuk tujuan apa saja. Namun tetap saja mestinya sebuah cerita mengandung pula suatu maksud. Dan, sebisa mungkin bermanfaat. Setidaknya buat penulis dan pembaca.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Baru beberapa pekan ini, Avi dan Dewi berkenalan. Namun, sejak pertemuan pertama, mereka sudah larut bersama. Keduanya bak dijodohkan sejak dalam kandungan. Tak ada yang mampu memisahkan kedekatan mereka berdua. Pertemuan mereka pun tanpa sengaja. Keduanya menjadi anggota di sebuah komunitas penulis di internet. Dari beberapa kali memberikan komentar di tulisan masing-masing akhirnya keduanya akrab. Dan hubungan pun berlanjut.
Avi sudah lama menginginkan berhenti dari pekerjaan yang membunuh cita-citanya. Pekerjaan di sebuah perusahaan teknologi informasi dirasakan menghambat Avi. Cuma satu keinginan Avi menjadi penulis –terutama menulis fiksi. Hanya saja karena menjadi penulis masih belum mampu memberikan penghasilan memadai, Avi terpaksa memertahankan pekerjaan sebagai Manajer Pemasaran. Lagi pula, Avi merasa sungkan kepada pemilik perusahaan. Sebab, ia dan pemilik perusahaan sudah seperti keluarga.
Begitu pula dengan Dewi. Ia yang bekerja sebagai staf di bagian pendidikan sebuah perguruan tinggi swasta hendak berhenti kerja. Ia ingin mengabdikan dirinya sebagai seorang istri bagi suaminya. Selain menggapai cita-cita sebagai penulis. Impian Dewi sederhana saja. Ia ingin membesarkan anak dan bekerja di rumah sebagai penulis. “Mas, aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu,” ungkap Dewi. Tentu saja ini memang cinta kilat. Tapi, dengan kedewasaan yang dimiliki –meski usia terpaut jauh- mereka bertekad akan mengayuh biduk bersama. “Ya, kita siapkan dulu saja,” ujar Avi, “kan tidak perlu terburu-buru.”
“Mas, kasih tahu Wie cara menulis dong,” pinta Dewi mesra. Dewi selalu menyebut dirinya Wie.
“Boleh,” jawab Avi, “mau kan jadi pembaca yang baik.”.
“Mau, mau, mau,” jawab Dewi kegirangan.
“Ya, kalau begitu baca aja ini,” saran Avi sembari melayangkan surat elektronik kepada Dewi.
***
Selesai membaca sebuah tulisan yang menarik, hampir semua orang terbersit keinginan berbuat sama. Yakni menulis. Begitu pula selesai membaca novel, keinginan menjadi novelis menggebu-gebu. Termasuk Avi yang memang punya impian menjadi sepenuhnya berkarir sebagai penulis. Ingin sekali punya waktu menyelesaikan penulisan novel. Setidaknya satu.
Buat mereka yang sehari-hari bergelut dalam pekerjaan yang mengandalkan kerja otak kiri –yang bercorak analisis matematis- sesekali menggunakan kerja otak kanan –yang bercorak seni dan kreatif- tentu menyenangkan. Setidaknya menyeimbangkan kerja otak. Dan, dari sejumlah penelitian, memungsikan penggunaan kedua bilik otak dalam keseharian membuat hidup lebih sehat. Alhasil menggunakan kedua bilik otak dalam hidup dapat membantu berumur panjang.
Hal itulah yang dialami Avi. Meski dalam pekerjaan keseharian, ia bergelut ke dalam analisa matematis di bisnis teknologi informatika, namun dengan kemampuan menulis kreatif yang dimiliki, ia dapat menyeimbangkan kerja kedua bilik otak. Ketika bekerja di kantor ia menggunakan otak kiri. Di waktu luang, dalam menulis fiksi, ia menggunakan sisi kreatif seni dari fungsi otak sebelah kanan. Apalagi setelah bertemu Dewi. Ketajaman intuisi makin tajam. Sehingga baik bekerja maupun menulis menjadi tambah semangat. Oh, Dewi, beruntung sekali aku bertemu denganmu, gumam Avi.
Cerpen atau Novel atau 100 Kata?
Menentukan lebih dahulu jenis cerita yang akan dibuat sungguh menyenangkan dan bermanfaat. Sebab, sebelum menuliskan sesuatu, selain telah melakukan pengamatan mendalam atas bahan cerita dan mengumpulkan bahan cerita tambahan, penulis tentu akan tahu jenis cerita yang akan digubahnya.
Jenis cerita fiksi tentu saja beragam. Ada genre roman. Ada sains, horor, petualangan, detektif, perang, dan lain sebagainya. Jenis cerita ini sekali lagi bergantung pula pada minat dan latar belakang pendidikan serta pengalaman penulis. Jika Anda seorang pengangguran dan belum pernah bekerja di mana pun, tentu akan kesulitan menceritakan sebuah lingkungan kerja. Kecuali Anda mengada-ada.
Tengok saja sinetron di televisi. Tampak sekali penulis naskah skenario sinetron tak pernah menjadi seorang direktur perusahaan. Nahasnya penulis skenario sinetron kurang mengamati kehidupan seorang direktur. Sehingga, dalam penulisan skenario selalu digambarkan pekerjaan direktur perusahaan itu hanya memaki-maki karyawan. Atau, bikin skandal seks dengan sekretaris atau karyawannya. Apa begitu kehidupan seorang direktur perusahaan? Tentu saja tidak.
Ada pula yang lebih tidak masuk akal. Seorang ibu yang nampak jelas berpenampilan belum di atas 30 tahun telah memiliki anak berpenampilan seusianya. Apa ibu di sinetron sejak balita telah hamil? Sehingga ketika anaknya berusia 20 tahun ia masih 25 tahun. Dan, masih banyak lagi kelemahan penulisan disebabkan kurang pengamatan terhadap bahan cerita.
Menulis cerpen, novel, ataupun cerita 100 kata yang menjadi tantangan di http://kemudian.com sama saja. Memerlukan kesungguhan dalam persiapan. Terutama dalam pengumpulan bahan cerita. Jauh sebelum Pramoedya mampu menuliskan trilogi Bumi Manusia, ia telah meminta semua mahasiswanya –ketika itu Pram mengajar di Universitas Res Publica yang sekarang menjadi Universitas Trisakti- mengumpulkan potongan beragam berita di seluruh koran yang terbit saat itu. Sehingga ketika menulis trilogi Bumi Manusia, Pram sudah memiliki selautan bahan bacaan.
Ketika telah memiliki pengetahuan dan bahan cerita yang memadai, tentu saja menuliskan ke dalam berbagai jenis cerita lebih mudah. Apakah cerita akan ditulis cukup 100 Kata, cerpen, ataupun novel, itu soal waktu dan kemauan saja. Lagi pula, tak ada penulisan sekali jadi. Katanya, menulis itu sekadar menulis ulang semata. Pekerjaan menulis memang seperti. Penulis selalu bekerja mengulang tulisan sebelumnya. Sampai benar-benar ia merasa tak ada lagi tenaga untuk menulis ulang. Atau, tenggat waktu harus terpenuhi. Soalnya, kalau tenggat tidak dipenuhi, honor pun tidak segera cair. Honor penulis, buat Avi, hanya cukup membelikan seikat mawar merah untuk Dewi. Seikat mawar merah yang disiapkan Avi pada ulang tahun Dewi.
Memulai menulis? Dari mana? Kapan? Di mana?
Gagasan -apa pun bentuknya- selalu menjadi awal penulisan. “Mas, Wie ingin menulis novel tentang kehidupan kaum perempuan yang ditindas suami,” kata Dewi suatu waktu. Pernyataan Dewi itu dapat dikatakan sebagai gagasan dasar. Ada juga, yang mengambil gagasan dari sisi lain. Misalkan, suami yang dianiaya istri sendiri tapi disayang istri orang. Atau suami takut suami tetangga karena takut ketahuan ada main dengan istri tetangganya. Pendek kata, beragam gagasan dapat diangkat. Jika dari tujuh nada dapat tercipta jutaan lagu. Tentu dari 24 alpabet dapat lebih banyak cerita digubah. Jangan khawatir kehabisan gagasan.
“Mas, ada waktu nanti malam?” Tanya Dewi dan pintanya, “tolong jemput aku, ya.” Nah, ucapan Dewi itu bagai perintah yang tak dapat diabaikan buat Avi. Sebab, bisa runyam kalau bilang tak ada waktu. Jika berkasihan tidak dapat hidup dalam waktu luang, begitu pula menulis. Makanya untuk menjalani hubungan dengan Dewi, Avi pun harus pandai mengelola waktu. Apalagi mereka tinggal berlainan kota. Tentu akan repot mengatur waktu berkunjung.
Penulis juga sama. Harus pandai mengatur waktu. Ia juga wajib menyisihkan kegiatan yang tak bermanfaat. Jangan mengorbankan waktu untuk hal tak berguna. Sia-sia hidup ini jadinya. Apalagi jika benar-benar berkeinginan kuat menjadi penulis, sebaiknya sediakan waktu khusus. Apabila menulis hanya dalam waktu luang, tentu saja sebagaimana cinta, ia akan minggat dengan sendirinya.
Sedangkan memulai menulis bisa di mana saja meski tidak kapan saja. Tapi, yang perlu disiapkan, jangan banyak gangguan ketika sedang menulis. Hampir sama kan dengan ketika Anda berkasihan? Apakah Anda suka jika sedang berkasihan masih banyak gangguan? Atau, apakah Anda suka sekali ditonton banyak orang ketika sedang berkasihan? Tentu saja tidak. Menulis juga begitu. Jadi, hilangkan segenap gangguan ketika Anda sedang berkasihan. Juga ketika sedang menulis. Banyak gangguan akan merepotkan Anda ketika sedang bermesraan. Percaya deh.
Tapi jangan lupa ketika merasa selesai menulis, segera undang semua teman ke tempat Anda. Dan, jangan ketika Anda sedang berduaan dengan kekasih Anda lho. Bagikan saja tulisan Anda itu. Dan, minta tanggapan mereka. Asalkan setelah itu, Anda traktir semangkok bakso, mereka tentu akan senang. Atau, Anda bergabung dengan komunitas di internet. Misalkan, http://kemudian.com/user/avian_dewanto. Atau groups penulis semacam http://writerstavern.yahoogroups.com. Berikan komentar Anda dan Anda bisa mengharapkan masukan dari anggota lainnya. Setidaknya begitulah yang menjadikan Dewi dan Avi bertemu. Lumayan kan. Maksudnya ditraktir semangkuk bakso sehabis kasih komentar. Apalagi kalau sampai jadian dengan Dewi. Tambah lumayan lagi.
Plot
Tentu saja dalam berbagai literatur teknik menulis fiksi kerap ditemukan perintah untuk menentukan plot. Yang dimaksud plot itu semacam alur cerita. Jadi penulis merancang alur cerita yang akan disusun sebelum menulis. Ada sembilan bahkan duapuluhan plot yang kerap dikenalkan kepada penulis pemula. Bahkan, urusan plot ini bisa menjadi puluhan varian plot atau gabungan beberapa plot tersebut. Tak perlu hirau soal plot. Itu urusan para ahli linguistik. Mau pakai yang mana pun tak masalah.
Untuk membantu penulisan, biasakan saja membuat garis besar cerita. Nah, karena mengetik memakai komputer, biasakan tempatkan plot itu di awal tulisan. Kalau mau bermodal sedikit, beli saja kertas tempel. Tuliskan garis besar cerita di kertas itu lalu tempelkan di monitor komputer. Mudah kan? “Mas, enak aja kalau ngomong,” ujar Dewi. Yang namanya cuma ngomong doang ya enak dong. Gimana, nih, Dewi?
Sebagai penulis pemula, jangan dulu menyusun plot yang rumit. Mulai saja dari yang sederhana. Ingat menulis itu tidak sekali jadi. Selalu menulis ulang dan menulis ulang. Avi ingat ketika awal menulis, ia selalu menggunakan plot sederhana. Seingatnya ada dua jenis. Dalam buku teks teknik menulis disebut sebagai “Plot Berstruktur Naratif” dan “Plot Orang Ketiga.” “Yang seperti apa, sih, struktur plot naratif itu, Mas?” Tanya Dewi manja.
Plot ini dimulai dari suatu situasi yang “datar.” Maksudnya menulis dimulai dari suatu keadaan tanpa konflik –keadaan status quo. Dalam struktur cerita, di bagian ini, penulis menggambarkan seluruh karakter protagonis yang ada. Perlahan situasi status quo tadi berubah. Penulis mulai memasukkan suatu insiden –yang mampu mengubah situasi status quo tadi itu. Di bagian inilah, penulis memunculkan karakter antagonis. Maka kondisi status quo pun berguncang. Terjadilah konflik dan krisis.
Ke manakah arah akhir keadaan itu? Ya penulislah yang menentukan jalan keluar konflik itu. Sekaligus penulis menyusun bagian klimaks -yang bisa juga menjadi antiklimaks. “Maksudnya apa, sih?” Tanya Dewi, “kok, ada klimaks dan antiklimaks segala.” Sebenarnya tak ada aturan pasti –karena seni kan bukan ilmu pasti- soal akhir cerita. Biasanya kalau penulisan konflik terus menajam yang diakhiri suatu jalan keluar yang tiba-tiba, kerap pengakhiran penulisan disebut sebagai klimaks. Sedang jika penulisan konflik menajam lalu penulis mengakhirinya dengan mengulur ke persoalan awal, disebut sebagai antiklimaks.
“Tapi, tak perlu didebatkan soal plot klimaks atau antiklimaks,” saran Avi kepada Dewi, “yang penting kita menulis saja sesuka kita.” Seperti percintaan kita inilah. Jalani saja. Sabodo amat orang bilang apa pun. Kalau mau kasih kritik ke pemerintah atau legislatif saja. Sampaikan saja kritik. Perkara kemudian kritik kita ditanggapi, itu perkara lain. Yang penting, kata para politikus itu, pokoknya kritik sudah didengar. Menjadi penulis juga begitu saja. Kritik terima saja. Paling banter kuping menjadi merah. Dan, jantung serasa mau copot.
Di bagian “penutup” tadi itulah, penulis selalu memberikan jawaban atau solusi atas konflik. Tidak sebagaimana politikus yang tak pernah memberikan jawaban apa pun atas kritik. Apakah kemudian akan memenangkan karakter tertentu, ya, terserah penulis. Ada suatu kebiasaan umum dalam menyusun klimaks, biasanya yang menang itu yang baik. Yang jahat selalu kalah. Biar maling sekali pun, Ande-Ande Lumut yang mencuri kemben bidadari atau Robin Hood yang menggasak harta orang kaya, tetap saja dikatakan pihak yang baik. Dan, akhirnya selalu menang. Persis para koruptor di negeri ini. Nyatanya sudah nyata-nyata sebagai koruptor, masih tetap saja bisa menang.
Nah, kalau penulis mau menjadikan politisi maling sebagai karakter protagonis, ya, tak menjadi soal. Asal ingat saja. Tulisan Anda itu dibaca orang. Setidaknya Anda seorang diri. Jangan kira orang banyak lainnya akan melupakan tulisan Anda yang selalu membela yang menang. Maksudnya membela yang memberi uang. Sebaiknya jika berniat menjadi penulis jangan memulai dengan menulis sesuatu yang merugikan masa depan Anda. Apalagi membela para koruptor yang telah menyengsarakan rakyat di negeri ini. Sebaiknya Anda membantu saya dan Dewi. Memerangi perilaku menyimpang dari para politisi dan aparatur negara ini. Mau kan?
***
“Mas, apa semudah itu menjadi penulis?” Tanya Dewi.
“Tergantung apa yang kamu maksud mudah?” Avi balik bertanya.
“Maksud Wie, ya, dari penjelasan Mas kok mudah menjadi penulis,” ujar Dewi, “padahal kan gak semudah itu.”
“Ya, dijalani saja,” jawab Avi, “nanti kan baru tahu mudah atau sulit.”
“Seperti cinta kita ini, ya, Mas,” ujar Dewi.
“Maksud Wie?” Tanya Avi.
“Mas, kan sudah punya istri dan anak,” ujar Dewi, “tapi, masih mau mengambil istri lagi.”
“Terus?” Avi menjadi penasaran.
“Apa itu tak memberatkan?” Tanya Dewi.
“Apa kamu keberatan?” Avi balik bertanya.
“Wie, sih, tak keberatan,” kata Dewi, “tapi istri Mas?”
“Wie, istriku muslimah yang kaffah, “ujar Avi, “tak perlu diragukan kalau soal itu. Ia, insya Allah, akan menerimamu.”
“Wie juga mau menjadi muslimah yang kaffah, Mas,” ujar Dewi manja, “sekaligus menjadi istri yang baik untuk Mas dan ibu yang sabar untuk anak-anak.”
Dewi pun bertambah keyakinan dan cintanya kepada Avi. Tidak ada keraguan di sana. Impiannya menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anak kekasihnya ini akhirnya akan terkabul pula. Semoga.
kira - kira seperti itulah, semoga dapat membantu kita semua dalam belajar menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan.
Selasa, 01 Juni 2010
Teknik Menulis
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan komentar disini, untuk perbaikan blog ini. tentunya yang membangun yach,, jangan nyepam gituh..
tenang yang punya udah jinak.. ^_^